Tuesday, July 05, 2005

kalau semua agama benar, kenapa harus pindah agama?

ulil abshar-abdalla adalah koordinator jaringan islam liberal (JIL), sebuah wadah pemikiran2 progresif islam. beberapa waktu yg lalu, di salah satu milis yg gw ikuti gw baca imelnya ulil. isinya begini (sebagian gw potong untuk menyingkat cerita):

===== awal imel ulil =====

Salam,

Saya berkali-kali mendapat email tentang keinginan sejumlah orang muallaf untuk belajar Islam dengan saya. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa Islam seperti disodorkan oleh JIL adalah lebih masuk akal.

Sebuah email yang saya terima dari seorang gadis di Bali bercerita tentang keinginannya masuk Islam sejak lama. Tetapi tertunda, bahkan hampir gagal, karena peristiwa bom Bali. Dia punya pandangan bahwa Islam agama kekerasan. Tetapi setelah membaca tulisan-tulisan dari JIL dan mendengar ulasan-ulasan tentang Islam dari saya, dia merasa mantap kembali untuk masuk Islam.

Seseorang yang lain bercerita bahwa dia telah masuk Islam dan hampir keluar lagi setelah menyaksikan hal-hal yang mengecewakan dalam Islam. Tetapi dia membatalkan niatnya itu setelah membaca tulisan-tulisan dari JIL.

Sejauh ini, saya belum mendapatkan satu email-pun dari orang yang keluar dari Islam hanya karena berkenalan dengan pikiran-pikiran Islam liberal. ...

Tetapi, poin saya bukan soal JIL telah "menyelamatkan" orang-orang yang hendak keluar dari Islam, atau "menyelamatkan" orang-orang dari luar Islam ke dalam Islam. Bukan itu.

Poin saya adalah: bagaimana mungkin seseorang pindah agama.

...

Saya percaya bahwa semua agama adalah baik dan benar, oleh karena itu tak ada gunanya pindah agama. Jika anda kebetulan "lahir" dan "tumbuh" dalam agama A atau B, maka teruskan mencari kebenaran dalam agama itu hingga sejauh-jauhnya, dan anda akan mencapai Tuhan.

...

Sekali lagi, saya katakan, setiap agama mengandung kelebihan dan kekurangan. Karena fakta dasar ini, saya agak susah memahami, kenapa seseorang pindah agama. Apakah dia merasa bahwa agamanya mengandung kelemahan mendasar, sehingga harus pindah ke agama lain? Apakah jika ia pindah ke agama lain, dia merasa terhindar dari kelamahan itu? Bukankah dalam agama "baru" itu juga terdapat kelemahan pula? Ataukah dia merasa bahwa agama baru itu "sedikit kelemahannya" dibanding dengan agama "lama"? Atau dia sama sekali "lugu" bahwa agama "baru" seluruhnya baik dan agama "lama" seluruhnya jelek?

Orang yang paling saya benci adalah figur seperti Irene Handono, mantan suster yang masuk Islam dan kemudian menjelek-jelekkan agamanya yang lama. Saya kira, Islam tak membutuhkan orang-orang seperti ini. Irene Handono, yang kasetnya dijual di mana-mana, berisi ceramah yang menjelekkan Kristen, hanya relevan untuk orang-orang awam yang mengira bahwa agama adalah seperti "klub bola": suporter satu klub mengejek
suporter yang lain. Orang yang pindah dari agama satu ke agama lain dan menjelek-jelekkan agama "lama" sudah pasti tidak menguasai dengan baik agama yang ditinggalkannya, apalagi agama yang baru dipeluknya.

Sekali lagi saya katakan, setiap agama mengandung kelebihan dan kekurangan. Banyak hal yang bisa dikritik (juga dipuji) dalam Kristen, begitu juga banyak hal yang bisa dikritik (dan sudah tentu juga dipuji) dalam Islam. Pendekatan yang paling baik antaragama saat ini adalah sikap saling belajar satu dari yang lain.

...

Bagi saya, pindah agama, secara otentik, adalah "gempa" dahsyat yang sulit saya pahami, dan terjadi hanya dalam kasus-kasus perkecualian yang jarang terjadi. Selain itu, secara umum saya kurang setuju dengan konversi, kecuali dalam kasus-kasus yang sangat khusus. Bagi saya, agama adalah berkaitan dengan komitmen terhadap sesuatu yang Mutlak. Hubungan kita dengan agama tidaklah bisa disamakan dengan hubungan kita dengan hal-hal lain yang bersifat mundan dan duniawi. Setiap agama adalah jalan menuju keselamatan, dan oleh karena itu siapapun yang bersungguh-sungguh mencari keselamatan dalam agama apapun yang kebetulan ia terima dari keluarga atau lingkungannya, maka ia akan menemukan jalan kebenaran.

Ulil

===== akhir imel ulil =====

gw cukup kaget dan sempat terhenyak baca imel ini. karena di saat gw udah mulai ngerasa nyaman dengan pandangan2 dan pemikiran di JIL, tiba2 gw seakan2 "diingatkan": kenapa juga gw harus mencari jalan di agama lain, sementara agama gw sendiri tidak gw selami dulu. gw jadi disadarkan kembali dan diingatkan akan apa yg gw yakini dari dulu, sejak gw kecil, bahwa semua agama itu sama baiknya dan tujuannya.

tapi "kembali ke agama keluarga" belum tentu jadi jawaban buat pencarian gw selama ini. pertama, bukannya gw tidak menyelami/mencari di agama katolik. dibesarkan dlm keluarga katolik yang cukup kuat sudah cukup banyak memberi gw bekal pengetahuan dan iman. tp setelah selama ini gw beragama katolik gak pernah gw nemu pandangan2 yg progresif di agama itu. pandangan yg menegaskan ke-universal-an agama, yg berani bilang bahwa di agama lain ada keselamatan. itu gak ada. yg ada cuma mendaur ulang kisah2 lama yg dogmatis.

orang2 yg beragama kristen di sekitar gw lebih membuat gw tidak nyaman lagi. mereka selalu begitu mengagung2kan "eksklusivisme keselamatan". sampai2 ada pendeta yg mendoakan seseorang yg baru pindah ke agama kristen supaya dibebaskan dr kuasa iblis dan ikatan2 agamanya yg lama. gw sangat muak dan marah denger itu. bagaimana ia bisa menyatakan diri sebagai anak tuhan kl ia tidak bisa menghargai perbedaan sebagai hakekat kemanusiaan. tuhan saja tidak diskriminatif, kenapa juga manusia harus selalu mendiskriminasi sesamanya.

gw sama sekali gak pengen menjelek2kan agama kristen. krn di semua agama yg namanya pandangan eksklusif tentang keselamatan itu ada, dan yg fanatik dgn itu juga banyak. islam, katolik, protestan, semuanya sama (hindu dan budha gw gak tau yaa).

kembali ke pokok persoalan, justru pandangan inklusivisme islam seperti yg tersirat di imel ulil itu--jg yg sering didengung2kan oleh para pemikir dr Paramadina atau JIL--yg bikin gw sangat simpati dgn mereka. pandangan2 seperti itu yg selama ini selalu gw percaya dan yakini, dan dari mereka pulalah akhirnya gw menemukan begitu banyak pembelaan akan apa yg dr dulu gw yakini. di situlah prinsip keimanan yg selama ini gw pegang terakomodir.

namun kembali ke pernyataan ulil: "Jika anda kebetulan "lahir" dan "tumbuh" dalam agama A atau B, maka teruskan mencari kebenaran dalam agama itu hingga sejauh-jauhnya, dan anda akan mencapai Tuhan." well, apakah gw sudah menggali cukup dalam di agama gw sendiri? mungkin belum.

beberapa bulan yang lalu gw sempat bertanya ke seorang teman kantor yg cukup sepaham dgn gw soal ketuhanan/agama: ada nggak sih orang2 di agama katolik yg berpandangan progresif seperti orang2 paramadina atau JIL? jawab orang itu: seharusnya sih ada. kalau romo sandy bisa bikin website mungkin dia jg akan mempublikasikan pandangan2 katolik yg lebih maju dan inklusif lewat internet.

dari obrolan dgn adik gw, gw jg baru tau kalo ternyata banyak orang2 katolik yg berpandangan tidak sempit. apalagi pendidikan agama katolik itu dekat dengan filsafat. kalo gak salah, seorang calon pastor harus menempuh pendidikan teologi dan filsafat dulu sebelum ia ditahbiskan jadi pastor. jadi menurut adik gw banyak para calon pastor atau anak2 seminari yg pandangannya terbuka dan sangat maju tentang agama. hmm.. tp kenapa gw gak pernah nemu pemikiran2 itu ya? apa gw yg kurang jauh mencari, atau memang pandangan2 progresif katolik itu yg tidak pernah dipublikasikan dengan cukup luas?

setelah membaca imel ulil itu, di satu sisi gw merasa tercerahkan, tp di sisi lain cukup membuat gw bingung. mungkin gw selama ini menggali kurang dalam. tapi rasanya gw udah cukup letih dgn pencarian ini. gw punya sesuatu di depan mata gw yg bisa gw pegang, yg sesuai dengan prinsip dan keimanan gw selama ini, dan bisa menuntaskan kasus pacaran beda agama gw (yg berkali2 terjadi). tp gw masih harus menggali lebih jauh lagi di agama gw sendiri, mencari sesuatu yg belum tentu gw temukan (walaupun diyakini oleh ulil pasti ada), tp yg pasti bikin nyokap gw dan keluarga gw seneng.

gw gak tau misi apa yg sedang gw emban kali ini. gw jg gak tau apakah ini semua ada gunanya buat orang lain. krn gw sebetulnya gak pengen bikin satu pihak senang, tapi pihak yg lain sedih. kenapa sih kita tidak bisa hidup berdampingan walaupun berbeda2 seperti di jerusalem?


*lebih jauh tentang Jaringan Islam Liberal bisa klik di http://islamlib.com/
*lebih jauh tentang pandangan2 Islam Paramadina bisa baca buku:
"Islam, Doktrin, dan Peradaban" karangan Nurcholish Madjid
"Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis" karangan Tim Penulis Paramadina (Nurcholish Madjid, dkk)

21 Comments:

Blogger Asri said...

interesting blog! Saya udah sering baca & liat friksi dalam hati manusia yg timbul tentang persoalan agama (eksistensi agama dalam kehidupan seseorang).. btw, saya sendiri menyadari kadang suka merasa congkak dengan menggunakan Agama sbg alat utk membenarkan sesuatu secara 'kaku'.. tapi saya juga ga suka diadili seenaknya,apakah itu sbg penganut agama ortodoks, puritan, fanatik, ataupun liberal, sekuler dsb.. karena pd akhirnya semua hrs melalui proses utk mendapatkan pencerahan agama yg sebenar-benarnya yg lebih humble, mampu meredam kemarahan, dan menciptakan kedamaian abadi!(jika niat itu memang ada).. Nice to know u anyway!

August 09, 2005 10:02 AM  
Anonymous Anonymous said...

karena kurang kerjaan, makanya gw baca2 blog loe ...dan karena gue gak ada kerjaan, so gue ngasih comment soal tulisan 'agama' loe..;-P

Buat gue seh selama orang melihat agama sebagai suatu aturan yang harus diperdebatkan mana yang bener mana yang salah, agama sebagai sarana untuk masuk sorga atau neraka, agama sebagai alat untuk menentukan 'loe suci atau gak suci, kafir atau gak kafir', agama sebagai suatu dinding pemisah 'kita' dengan 'mereka'...maka sungguh malanglah agama yang diyakininya itu..suatu agama yang tidak bisa hidup dan menghidupi manusia di tengah perbedaan dan kekurangannya...

September 14, 2005 1:46 AM  
Anonymous Anonymous said...

Blogmu interesting banget :)

Aku jg Katolik, dan senang jg mengikuti pemikiran 'Islam Liberal' lewat milisnya. Aku ngliat udah mulai banyak pemikiran progresif di kalangan Katolik sendiri dalam melihat dan berdialog dengan agama-agama lain. Ini bisa kita lihat dari tokoh-tokoh semacam Frans Magnis Suseno, Rm Mangun, Rm Sandyawan, Rm Benny Susetyo, dsb. Memang yang terlihat baru dalam tataran 'priyayi' (rohaniwan) agamanya ... namun aku yakin di kalangan awam sebagai umat [ seperti saya ini :) ], sangat banyak yang progresif - inklusif - dan toleran.

Sayangnya memang seperti yang Anda katakan, pemikiran-pemikiran ini gak terkespose dengan baik di media2 komunikasi-informasi. Berbeda dengan 'Islam Liberal' yang di Indonesia dikenal dengan 'JIL'nya, di kalangan Katolik Indonesia blum ada institusi atau jaringan sejenis.

BTW, untuk menggali 'harta karun' Katolik (yang sering kali tidak kita dapatkan di pelajaran agama sekolah2 Katolik, sekolah Minggu) ... gak ada salahnya membaca buku 'Katekismus Gereja Katolik'. Di buku ini, dapat ditemui 'Karya Penyelamatan Tuhan' dalam kerangka Gereja Katolik, tanpa mengabaikan sisi 'Universalitas'nya.
Anda juga dapat membacanya secara online di:
-. http://teologi.net/
-. http://www.scborromeo.org/ccc.htm
-. http://www.vatican.va/archive/catechism/ccc_toc.htm

FYI, sejak Konsili Vatikan II ... Gereja Katolik mempunyai pandangan "Di luar Gereja Katolik ada benih-benih keselamatan".

Salam dari sesama Peziarah Pencarian Hidup,
Agung

October 04, 2005 2:49 PM  
Anonymous Anonymous said...

salam kenalll

agama sama Tuhan sama ga? kalo God sama God's word sama ga? Any knowledge of what does God's words comes in form of? kalo kalo
he he he
just tickling your brain there...
Lelah yah? tapi nikmat kan sakitnya??
kalo ga merasa lelah mungkin lo dah ga hidup lagi kaliii???
I'll pray for you for good things, hi hi
God is good

October 24, 2005 1:21 PM  
Blogger iwan paul said...

buat semua yg udah baca dan ninggalin komen: tengkyuuu udah mampir dan baca2 tulisan gw. senang dapet komen2 yang supportive dan open-minded gini.. =)

buat yg ninggalin spamming, duuhh pliss deehh..

October 25, 2005 7:19 PM  
Anonymous Anonymous said...

sebenernya menurut lo sendiri apa sih wan yg lo bilang org berpandangan maju soal agama? bhw mrk gak membeda2bedakan agama lain? yg menyatakan bahwa semua agama sama?
sebenernya apa sih yg lo cari?

November 07, 2005 9:27 AM  
Blogger iwan paul said...

gini bim.

yg gw bilang pandangan maju di agama itu adalah pandangan2 yg melihat agama dan semua nilai2nya secara mendalam dan disesuaikan dengan konteks jaman/budaya. istilahnya kalo di islam itu ijtihad: usaha untuk mempelajari lebih jauh lagi, ini kenapa, itu kenapa, jadi semuanya gak ditelen mentah2, gak dilihat secara harafiah atau taken for granted aja.

soal agama sama atau beda itu kan persepsi masing2 bisa beda. yg penting saling menghargai aja.

yg gw yakini selama ini: di semua agama itu ada keselamatan. dan gw menemukan pandangan kayak gitu di agama katolik maupun islam. ya orang boleh berbeda pendapat, dan sah2 aja, selama tidak menjelek2an agama2 yg lain.

gitu bim.. =)

November 18, 2005 9:08 PM  
Anonymous Anonymous said...

jadi lo pengen lebih ngulik nilai2 agama itu sendiri?
Kadang manusia sendiri yg suka ingin menyesuaikan agama bagi kepentingannya sendiri dan bukan memang krn inti dari agama itu sendiri.
Kalo lo memang mau pindah, jgn karena ingin menemukan sesuatu yg hanya sesuai dgn keinginan atau kepentingan kita sendiri. Kalo lo pun tetep dengan agama lo sekarang juga karena memang itulah yg lo yakini. Terlepas dari semua agama itu sama atau beda dlsb.

November 27, 2005 10:41 PM  
Blogger Neng Keke said...

Dengerin hati lo bicara, wan...

March 23, 2006 10:54 AM  
Anonymous Anonymous said...

Halo Wan, Iyo neh...hehehe baru baca blog loe sekarang. Gak tau, masih berguna gak yg gue komentarin, karena sudah hampir setahun sejak loe tulis. Tapi gue percaya pada misteri "Sang Waktu". Menurut konsep manusia, waktu itu sesuatu yg linear, tapi barangkali menurut "Sang Waktu" sendiri, waktu itu tidak linear, jadi gue tulis sekarang atau setahun lalu gak jadi masalah. Dan ini mungkin memang waktu dan saatnya bagi gue untuk menulis dan juga waktu eloe membaca.

Menurut gue eloe memang belum mendalami, at least 'kurang knowledge' lah. Gue cuma mau share aja sama eloe Wan, sebagai gue secara sejarah terlahir sebagai anak Katholik dari keluarga Katholik. Kalau loe bingung mencari ada gak sih orang2 Katholik yg berpikiran 'progressif', wah loe belum kenal gue banyak berarti dan loe lupa sama program2 "week end" yg pernah eloe ikuti sewwaktu mahasiswa. Tapi poinnya bukan itu.

Gue mau awali dari hasil Konsili Vatikan II tahun 1967, di mana hasil-hasil Konsili yg berupa dokumen2 ajaran Gereja yg disebut Gaudium et Spes yg artinya Kabar Baik untuk Semesta Alam. Salah satu dokumen dalam Gaudium et Spes disebut "Nostra Atate" yg cukup revolusioner karena Gereja Katholik mengakui adanya kebenaran di luar Gereja Katholik, apakah itu di gereja2 lain, maupun di agama2/kepercayaan2 lain. Konsili Vatikan II sudah barang tentu membuat panas faksi2 Katholik yg fanatik dan kemudian banyak yg memisahkan diri dari Vatikan. Salah satu peristiwa perpisahan (Scisma) terbesar yg dicatat adalah dg salah satu Keuskupan di Perancis (Louvre kalo gak salah), di mana uskupnya mengalami proses/sanksi ex-komunikasi dari Vatikan karena menolak hasil Konsili Vatikan II.

Kalo loe inget, jaman di Gosip dulu gue sering bilang era 1960-an sbg the 2nd Enlightment setelah Renaisansce, bukan saja krn lahirnya "flower generation" atau berkembangnya aliran "chritical theories", tetapi salah satunya bagi gue juga karena adanya Konsili Vatikan II.

Dalam presentasinya saat diadakan seminar 3 hari pemikiran2 Cak Nur di Universitas Paramadina tahun lalu, Franz Magnis Suseno mengatakan bahwa Gereja Katholik butuh 19 abad untuk sampai ke pemikiran progressif/inklusif melalui Konsili Vatikan II. Tapi Islam melalui Cak Nur cuma butuh 13 abad untuk sampai pada hal yg sama. Dan yg terpenting bagi gue, keduanya sama-sama muncul di abad ke-20, abad yg paling menyedihkan bagi martabat kemanusiaan (PD I, II) sekaligus juga pencerahan bagi nilai2 kemanusiaan (Pancasila, declaration of human rights, teori2 Enstein, chritical theories, ...)

At the end Wan, mengutip Y.B. Mangunwijaya , yg terpenting adalah religiositasnya bukan religinya. Dan sama seperti Ulil, sejak 1990 gue juga gak bisa menerima/mengerti pada orang yg pindah agama, even dia pindah ke Katholik. Kalo Ulil mengatakan agama itu bukan klub sepakbola, tetapi dari kecil gue ngerasa agama dan pemukanya seringkali menjadi tukang obat di pasar, yg teriak2 menceritakan kemanjuran obatnya dan berusaha pay attention orang yg lalu lalang. Bener sih banyak orang yg nongkrong, sekedar nonton atau pun beli pada akhirnya...

March 27, 2006 7:03 PM  
Anonymous Anonymous said...

kalau mau fair wan... lo harus bersedia mendalami semua kitab suci yang diturunkan Tuhan kepada manusia... dan tentu saja melalui seorang guru yang konsisten (lo harus belajar isi Alkitab-perjanjian lama dan baru dari ahlinya, lo juga harus mempelajari Al-Quran dari ahlinya yang benar-benar memegang ajaran Islam dengan konsisten, jadi bukan dari orang-orang bingung seperti Ulil dkk. yang tidak jelas arah tujuan pemikirannya)... baru lo bisa memutuskan apa tujuan hidup ini... dan mana jalan terbaik yang lo anggap paling benar buat lo tempuh... karena hidup ini hanya persinggahan wan... dan lo harus memilih tujuan akhir perjalanan hidup ini...
catatan: koq ada comment2 yang lo hapus wan? jangan dong... biarpun gak sesuai dgn pendapat lo, biarin aja... biar pembahasannya jadi obyektif gitu... (Swarnaputra)

June 26, 2006 2:10 AM  
Blogger iwan paul said...

tengkyu buat semua yg udah komen. fyi aja, semua komen yg gw apus itu adalah spamming/jualan gak jelas. gw tidak menghapus komen yg emang related dgn tulisan gw. sekali lagi tengkyu yg udah mampir dan baca tulisan gw.. =)

June 26, 2006 2:33 AM  
Anonymous Anonymous said...

Saya seorang gadis yang dilahirkan ditengah-tengah keluarga Katolik.
Sewaktu saya TK atau SD kelas 1 (saya lupa pastinya), saya sering bertanya kepada kakak saya:
"Apa sih bedanya Tuhan, dan Yesus?" atau,
"Kemana kita harus menyampaikan doa? Ya Yesusku, atau Ya Tuhanku?"
Pertanyaan itu belum terjawab dengan pasti sampai saat ini. Namun, saya tidak perlu mencari, atau mengutak-atik kedua subyek itu..
Benar apa yang dikatakan Ulil, bahwa tidak ada satu agamapun yang sempurna.
Bagi saya, tidak peduli agama apa yang kita anut, yang penting bagaimana kita menata hidup, berbuat baik untuk orang lain, dan mempersiapkan jalan kita ke Surga pada akhirnya.
Jadi, setelah saya semakin dewasa saya lebih suka "memakai kaca mata kuda". Tidak perlu melihat atau membandingkan dengan agama di kiri-kanan saya; tidak perlu mencari mana yang lebih benar; tidak perlu mencari tokoh2 yang inklusif,dsb.
Saya merasa nyaman berada dalam dekapan agama Katolik ini..

Masalah pacaran beda agama, saya juga beberapa kali mengalaminya. Tapi, saya lebih mencintai Yesus dibandingkan pasangan saya saat itu. Sehingga, saya yakin, bahwa cinta tulus saya kepada Yesus akan membuahkan hasil yang lain, Yesus pasti mencarikan gantinya yang seiman dengan saya.

Akhir kata, semua kembali ke Hati Nurani(tempat dimana Allah membisikkan segala sesuatu yang benar) mas Iwan.


.: IN NOMINE PATRIS, ET FILII, ET SPIRITUS SANCTI :.
(Suatu kalimat yang tidak perlu diperdebatkan maknanya, yang jelas, saya merasa aman berada didalamnya..)

Regards,

Cyrenia Coory Indrasari
(winetou_girl@yahoo.com)

September 06, 2006 9:29 PM  
Anonymous Anonymous said...

Menarik juga tuh pikiran Ulil. Cuma gw ada pertanyaan kecil nih: kalo semua agama sama kenapa tdk mudah bagi seseorang untuk pindah2 agama atau memluk semua agama ya. Misalnya Jumat ke Masjid, Minggu ke Gereja, Selasa Kliwon ke Pangestu, Sabtu libur ....

October 16, 2006 12:54 AM  
Anonymous Anonymous said...

kebenaran (yang sejati) menusuk hati/pikiran yang terdalam, dan memberi batas tegas antara hitam dan putih, atau antara "good" dan "evil". yang benar seharusnya tetap benar, dan yang salah tetap salah. tapi tidak berarti pihak yang merasa benar berhak menghakimi pihak yang dianggap salah. dan tidak berarti juga pihak yang bersalah (dan putus asa) berhak menghakimi dirinya sendiri. karena hidup bukan kepunyaan manusia.

November 11, 2006 1:06 AM  
Blogger Franz Bubic said...

Mungkin ada satu pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur; percayakah anda bahwa manusia mampu dengan usahanya sendiri mencapai Tuhan? Saya sih tidak. Padahal hampir semua agama intinya sama; mengajarkan kiat-kiat (petunjuk teknis) untuk mencapai Tuhan. Artinya yang diandalkan hanya kemampuan manusia itu sendiri. Saya sih pesimis. Sangat pesimis. Mengatakan manusia mampu mencapai Tuhan sama dengan mengecilkan kemuliaanNya. Artinya hampir semua agama justru menghujat Tuhan.

November 14, 2006 3:25 AM  
Anonymous Anonymous said...

Gimana komenmu LIL, aku tunggu responsenya lho. Itu lho: kalo semua agama itu emang sama knp kita td bisa memeluk semua agama. Mbak Indrasari, e.g., ngrasa nyaman dl dekapan katolik. Saya yakin deh dia akan gelisah kalo mesti nglakuin puasa atau solat ala muslim. Pdhl kalo logika semua agama adalah sama mestinya gak perlu gelisah dong. Tul gak?

November 21, 2006 5:09 AM  
Anonymous Anonymous said...

intinya, konsep ketuhanan yang PALING masuk akal aja deh. That's simple thing!

February 19, 2008 2:52 PM  
Blogger rimma said...

hai gwe lagi isenk2 di kantor baca2 Blog loe......gwe ga tau deh, mau comment apa,karna skarang gwe lagi ngalamin pacaran beda agama......Gwe ga pernah nyari pembenaran ats hubungan gwe.....Tapi gwe berharap ADA jalan untuk hubungan kita.....
I sure GOD lOVE'S mE.....dan jujur gwe ga seneng aja suka banyak yang menjelek2an agama satu sama lain....
Karna gwe yakin ALLah ga mengajarkan itu.....GWE YAKIN BANGET iTU....

June 04, 2008 3:08 PM  
Anonymous Anonymous said...

Mungkin apa yang ingin dicapai agama untuk keduniaan adalah sama, karena tidak ada agama yamg mengajarkan untuk berbuat jahat atau mengharapkan pemeluknya bersikap tidak baik terhadap pemeluk agama lain. Lalu apa yang membedakan agama tersebut?.
Sebagai contoh untuk pendekatan kira-kira begini. Antara kucing dan anjing dalam konteks mahkluk hidup adalah sama-sama binatang. Sebagi binatang ciri2nya juga sama yaitu, berkaki empat, berbulu, bertaring, sama-sama enak untuk piaraan. Lalu apakah kita akan menyamakan kucing dengan anjing?. Tentu tidak. Jika ada orang yang tidak mengenal sama sekali apa itu binatang dan bertanya tentang perbedaan anjing dan kucing pastilah kita akan sulit unruk menjelaskannya, yang paling mudah adalah menyatakan keduanya sama-sama binatang. Tetapi dibawah sadar kita pada hakikatnya ada perbedaan antara kucing dan anjing, walaupun keduanya sama-sama bintang.
Demikian juga dengan agama. Jika kita lihat sepintas lalu pasti tidak ada perbedaannya. tetapi dalam bawah sdar kita mengatakan agamuku berbeda dengan agama mu. Yang membedakannya adalah "hakikatnya". Mungkin apa yang ingin disampaikan JIL adalah dalam hal sifat,ciri dari semua agama itu sama. Untuk itu bagi pemeluk agama bertugas untuk mencari hakikat dari masing-masing agama tersebut, sehingga akan didapat pencapaian pada suatu kesimpulan yang harus dipertanggungjawabkan nanti. Dengan pencapaian tersebut akan makin jelas apa yang membedakan agama yang satu dengan yang lain. Jika tidak ada perbedaan maka saya hampir yakin para pator, rahib, pendeta, akan sama-sama sepakat untuk hal tersebut, dengan asumsi saya mereka-mereka tersebut terpilih menjadi pemimpin agamaya telah sapai kepada sebuah pencapaian masing-masing, tetapi sampai saat ini mereka masing-masing masih ngotot terhadap kebenaran agamanya, pasti ada "some thing".

August 31, 2008 11:27 PM  
Blogger jonggrang said...

Islam adalah kesempurnaan sebuah agama, tidak ada kekurangan atasnya. yang disampaikan Hj.Irene Handono adalah kebenaran yang mutlak. anda jangan lihat kulit luarnya saja dalam Islam, tapi masuklah kedalamnya. Jaringan Islam Liberal bukanlah ajaran Islam yang sebenarnya, Islam yang diturunkan oleh Allah...Ajaran JIL adalah sesat...Allahuakbar...

January 07, 2009 5:09 PM  

Post a Comment

<< Home