anda termasuk consumer atau reader?
stlh baca pengantarnya seno gumira ajidarma di kumpulan cerpen kompas "dua kelamin bagi midin"(2003), ternyata ada yg namanya konsep "readerly" dan "writerly" dlm membaca tulisan, yg dipinjam dr roland barthes, seorang tokoh semiotik asal prancis.
jadi tulisan2 yg kita baca itu ada 2 macemnya:
yg pertama itu readerly (lisible) yaitu tulisan yg cukup kita baca aja, terus ngerti isinya, udah. mungkin contohnya kyk novel2 populer gitu kali ya. begitu ngerti ceritanya ya udah. titik.
yg kedua itu writerly (scriptible). kurang lebih maksudnya adalah tulisan2 yg memancing si pembacanya utk menulis kembali, krn tulisan itu perlu ditelaah/punya makna yg perlu dianalisis dan dipikir ulang.
pembaca kategori tulisan yg pertama itu disebut consumer. ya selayaknya konsumen, kita tinggal kunyah terus telan aja. sementara pembaca kategori yg kedua disebut reader. di sini ada upaya utk melihat kembali/memikir ulang dan mereproduksi gagasan baru.
itu yg saya tangkap dr penjelasan singkat ttg dua konsep itu. lebih jauh lagi, saya menganggap, konsep ini jg bisa membedakan bagaimana kita "membaca" sesuatu, entah buku, entah situasi, entah musik/film, entah budaya, dll. para consumer melihat sesuatu selalu "taken for granted". asal terima. ditelen mentah2. sementara para reader melihat berbagai hal secara analitis dan kritis.
itu jg yg terjadi dgn bagaimana org memperlakukan agama (hehehe.. gak jauh2 ya gw ngomongnya, pasti buntutnya ke agama2 jg..).
seorang pemerhati masalah sosial-keagamaan, hamam faizin, pernah menulis bahwa ada 3 macam orientasi beragama (lengkapnya klik http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=619):
1. religion as end (agama sbg tujuan akhir)
2. religion as mean (agama sbg alat)
3. religion as quest (agama sbg pencarian)
orientasi yg pertama, yg menganggap agama sbg tujuan akhir, memandang agama sbg sesuatu yg sudah final shg "ia kebal (imune) dari kritik. Apa yang dikatakan agama akan menjadi “sihir” dan doktrin kebenaran yang mutlak. Pemeluk agama yang berpegang pada orientasi ini akan cenderung kurang memiliki pemahaman kritis terhadap agama.... Mereka kerap kali bersikap taken for granted terhadap agama. Pada akhirnya, agama kian terjangkit virus stagnasi spiritual, dan cenderung menguatkan eksklusivisme dan fanatisme para pemeluknya. Mereka cenderung menutup mata dari setiap perubahan realitas dan menutup telinga dari kritik yang ditujukan padanya."
yg kedua, yaitu agama sbg alat yg digunakan utk tujuan2 lain, misalnya politik atau ekonomi, which is gak akan dibahas di sini. yg penasaran baca aja di artikel aslinya yg URL-nya ada di atas.
yg ketiga, agama sbg pencarian, tidak dilihat sbg sesuatu yg sudah final dan rigid. Agama "diposisikan sebagai proses pencarian kreatif untuk menemukan tujuan yang mulia, sesuai dengan nilai-nilai agama itu sendiri. ... Dengan bersikap kritis, diharapkan pemeluk agama justru akan menemukan hakikat terdalam dari pesan-pesan agama itu sendiri. ... Pemeluk agama akan belajar untuk berpikir, menafsir dan menimbang mana yang merupakan semangat agama dan mana yang merupakan reduksi atas agama. Dengan jalan seperti itu, stagnasi dan kejumudan spiritual akan terpelanting jauh-jauh dari agama. ... Orientasi keagamaan ini yang disulut di sini adalah dinamika dan gejolak keberagamaan yang selalu hidup dan progresif."
orientasi agama yg pertama itu saya anggap sama dgn cara consumer "membaca" agama. agama diterima sbg suatu pedoman mati, yg penting kita ngerti ceritanya (meski hanya di permukaan), tidak perlu dikritisi, tidak perlu dikaji secara mendalam.
sementara orientasi yg ketiga, agama sebagai pencarian, saya anggap sebagai bentuk seorang reader "membaca" agama. agama ditelaah lagi secara kritis, sebagai sebuah proses dialektika (tesis-antitesis-sintesis) yg melahirkan pemahaman baru yg sangat individual sekaligus sangat mendalam.
seperti kata seorang teman, iwan pirous, dlm sebuah percakapan di pertengahan tahun 2004: "gue ingin menjadi orang Islam yang mengalami pencerahan, dan sangat sadar. artinya Islam yang menyadari perbedaan, yang tidak percaya al qur'an secara buta. memahami Islam sebagai hasil modifikasi sana-sini. gue ingin agama itu membebaskan dan kontekstual."
agama perlu dilihat secara "non-literal, substansial, kontekstual, dan sesuai denyut nadi peradaban manusia yg sedang dan terus berubah." (ulil abshar abdalla, 2002, lengkapnya klik: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0211/18/opini/meng04.htm).
itulah yg dilakukan para cendekia agama yg berpikir terbuka dan progresif. makanya mereka bisa memperjuangkan asas monogami, meskipun nabi sendiri poligami. makanya mereka berani berkata bahwa islam tidak melarang kawin beda agama. merekalah para "reader" yg selalu mendapat tentangan dr para "consumer": kaum fundamentalis agama dan orang2 yg hanya melihat agama secara sempit dan dangkal.
sekarang, bagaimana dgn anda? apakah anda termasuk consumer atau reader? (hehehe.. pasti gak ada yg mau disebut consumer. tp skrg gw tanya: makan babi masih haram atau nggak buat muslim jaman sekarang?)
jadi tulisan2 yg kita baca itu ada 2 macemnya:
yg pertama itu readerly (lisible) yaitu tulisan yg cukup kita baca aja, terus ngerti isinya, udah. mungkin contohnya kyk novel2 populer gitu kali ya. begitu ngerti ceritanya ya udah. titik.
yg kedua itu writerly (scriptible). kurang lebih maksudnya adalah tulisan2 yg memancing si pembacanya utk menulis kembali, krn tulisan itu perlu ditelaah/punya makna yg perlu dianalisis dan dipikir ulang.
pembaca kategori tulisan yg pertama itu disebut consumer. ya selayaknya konsumen, kita tinggal kunyah terus telan aja. sementara pembaca kategori yg kedua disebut reader. di sini ada upaya utk melihat kembali/memikir ulang dan mereproduksi gagasan baru.
itu yg saya tangkap dr penjelasan singkat ttg dua konsep itu. lebih jauh lagi, saya menganggap, konsep ini jg bisa membedakan bagaimana kita "membaca" sesuatu, entah buku, entah situasi, entah musik/film, entah budaya, dll. para consumer melihat sesuatu selalu "taken for granted". asal terima. ditelen mentah2. sementara para reader melihat berbagai hal secara analitis dan kritis.
itu jg yg terjadi dgn bagaimana org memperlakukan agama (hehehe.. gak jauh2 ya gw ngomongnya, pasti buntutnya ke agama2 jg..).
seorang pemerhati masalah sosial-keagamaan, hamam faizin, pernah menulis bahwa ada 3 macam orientasi beragama (lengkapnya klik http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=619):
1. religion as end (agama sbg tujuan akhir)
2. religion as mean (agama sbg alat)
3. religion as quest (agama sbg pencarian)
orientasi yg pertama, yg menganggap agama sbg tujuan akhir, memandang agama sbg sesuatu yg sudah final shg "ia kebal (imune) dari kritik. Apa yang dikatakan agama akan menjadi “sihir” dan doktrin kebenaran yang mutlak. Pemeluk agama yang berpegang pada orientasi ini akan cenderung kurang memiliki pemahaman kritis terhadap agama.... Mereka kerap kali bersikap taken for granted terhadap agama. Pada akhirnya, agama kian terjangkit virus stagnasi spiritual, dan cenderung menguatkan eksklusivisme dan fanatisme para pemeluknya. Mereka cenderung menutup mata dari setiap perubahan realitas dan menutup telinga dari kritik yang ditujukan padanya."
yg kedua, yaitu agama sbg alat yg digunakan utk tujuan2 lain, misalnya politik atau ekonomi, which is gak akan dibahas di sini. yg penasaran baca aja di artikel aslinya yg URL-nya ada di atas.
yg ketiga, agama sbg pencarian, tidak dilihat sbg sesuatu yg sudah final dan rigid. Agama "diposisikan sebagai proses pencarian kreatif untuk menemukan tujuan yang mulia, sesuai dengan nilai-nilai agama itu sendiri. ... Dengan bersikap kritis, diharapkan pemeluk agama justru akan menemukan hakikat terdalam dari pesan-pesan agama itu sendiri. ... Pemeluk agama akan belajar untuk berpikir, menafsir dan menimbang mana yang merupakan semangat agama dan mana yang merupakan reduksi atas agama. Dengan jalan seperti itu, stagnasi dan kejumudan spiritual akan terpelanting jauh-jauh dari agama. ... Orientasi keagamaan ini yang disulut di sini adalah dinamika dan gejolak keberagamaan yang selalu hidup dan progresif."
orientasi agama yg pertama itu saya anggap sama dgn cara consumer "membaca" agama. agama diterima sbg suatu pedoman mati, yg penting kita ngerti ceritanya (meski hanya di permukaan), tidak perlu dikritisi, tidak perlu dikaji secara mendalam.
sementara orientasi yg ketiga, agama sebagai pencarian, saya anggap sebagai bentuk seorang reader "membaca" agama. agama ditelaah lagi secara kritis, sebagai sebuah proses dialektika (tesis-antitesis-sintesis) yg melahirkan pemahaman baru yg sangat individual sekaligus sangat mendalam.
seperti kata seorang teman, iwan pirous, dlm sebuah percakapan di pertengahan tahun 2004: "gue ingin menjadi orang Islam yang mengalami pencerahan, dan sangat sadar. artinya Islam yang menyadari perbedaan, yang tidak percaya al qur'an secara buta. memahami Islam sebagai hasil modifikasi sana-sini. gue ingin agama itu membebaskan dan kontekstual."
agama perlu dilihat secara "non-literal, substansial, kontekstual, dan sesuai denyut nadi peradaban manusia yg sedang dan terus berubah." (ulil abshar abdalla, 2002, lengkapnya klik: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0211/18/opini/meng04.htm).
itulah yg dilakukan para cendekia agama yg berpikir terbuka dan progresif. makanya mereka bisa memperjuangkan asas monogami, meskipun nabi sendiri poligami. makanya mereka berani berkata bahwa islam tidak melarang kawin beda agama. merekalah para "reader" yg selalu mendapat tentangan dr para "consumer": kaum fundamentalis agama dan orang2 yg hanya melihat agama secara sempit dan dangkal.
sekarang, bagaimana dgn anda? apakah anda termasuk consumer atau reader? (hehehe.. pasti gak ada yg mau disebut consumer. tp skrg gw tanya: makan babi masih haram atau nggak buat muslim jaman sekarang?)


5 Comments:
krn pindah blog, komen2 dr tempat sebelumnya gw copy paste aja ke sini:
At 5:25 PM, Alia said...
Pantesan ada yang bilang consumers itu sebenarnya bodoh.
Soalnya mereka main glek aja.
Kalau gak main telen aja, udah bisa jadi readers tuh.
;)
At 5:52 PM, motulz said...
Wah gua setuju banget untuk penjelasan awal ttg pembedaan antara pembaca consumer dengan pembaca reader.
Dalam agama (kebetulan gue Islam) islam dikenal dengan yang namanya TAKLIT, gua rasa istilah itu sama dengan istilah consumer tadi. Bahkan istilah taklit ini bukan sekedar baca, tapi "katanya". Ketika seorang kyai bilang "gak boleh makan babi" maka dia hanya gak makan karena alasan kata kyai tanpa mencari tahu syariatnya. Taklit dilarang dalam Islam, manusia yang baik adalah manusia yang berfikir dan mencari tahu (belajar).
Nah sekarang, tentang Al Quran.. apakah harus saya baca sebagai "consumer" atau "reader"? hehehe.. Menurut saya (pribadi) saya akan baca dengan cara reader dan akan saya jalankan "ajarannya" dengan cara consumer.
Saya merasa, kitab suci bukanlah konteks "hanya buku bacaan" akan tetapi PANDUAN HIDUP. Penulisnya pun bukan manusia seperti kita-kita ini. Dalam bahasa Arab, Quran artinya "bacaan" tapi ketika ada AL di sana (AL QURAN) maka menjadi THE atau dengan kata lain "the one and the only". Ada kekhususan di sana. Berarti saya taklit dong? Saya rasa tidak. Karena kemunculan kitab ini jauh sebelum saya lahir dan akan tetap dibaca jauh sesudah saya meninggal. Manusia (termasuk saya) punya keterbatasan "frame of reference" dalam berfikir dan beranalisa. Konsep Einstein pun hingga kini gagal terbukti, salahkah konsep itu? Nggak.. jangan-jangan 10 tahun ke depan akan ada pembuktian itu. Kemampuan manusia sekarang akan terus berkembang, akan tetapi kemampuan isi kitab suci sepanjang zaman (harusnya ya) :D
Duh gua bukan orang alim sih jadi gak bisa kasih opini yang lebih baik hehehe..
At 10:20 PM, Anonymous said...
agama sbg tujuan akhir sih gpp juga wan, krn pasti juga itu melalui proses pencarian jati diri, proses kritis, proses kretiaf dalam mencari kebeneran2 apa yg sebenernya terkandung didalam agama yg dia anut (mestinya ya).
Memang ada yg bisa kita jabarkan secara logis ada juga yg memang gak bakal bisa kita jabarkan secara lagis alias memang itu rahasia 4JJI Swt.
selama itu mengacu pd Qur'an dan hadits maka Insya Alalh kau tak kan tersesat, begitu pesan Nabi sebelum beliau wafat.
yah gue juga masih jauuuuhh wan hehe, gue mungkin masih sekedar consumer mungkin spt kata lo itu, ya mudah2an proses itu akan mencapai seperti "reader" yg lagi2 lo bilang tadi :D
This comment has been removed by a blog administrator.
wan...gue yg mana ya? huehuehue
*kangkebon
ya....yang reader itu yang menapsirkan al-qur'an dengan seenak udelnya, mereka menyembah /men-Tuhankan akal dan alam pikiran mereka demi napsu dan kesenangan dunia mereka dan membantah/melupakan semua aturan yang telah tertulis Jelas (tak perlu ditapsirkan) dikitab suci .
bagi mereka ga adagunanya aturan yang sakral di dalam agama karena meraka berkata "tuhan adalah pikiranku".
Kebenaran adalah petunjuk yang haq yang datangnya dari Allah bukan dari akal pikiran manusia yang bisa terkontaminasi dengan napsu keduniaan.
dedythea
londo_nogila@plasa.com
Kenapa subyeknya agama? Buat saya yang perlu dikenal, dan dicintai dengan segenap kemampuan adalah Tuhan. Agama itu apa sih?
Post a Comment
<< Home